Nderek langkung: Memahami Tata Krama dan unggah ungguh Jogja
artikel

Nderek langkung: Memahami Tata Krama dan unggah ungguh Jogja

Nderek langkung: Memahami Tata Krama dan unggah ungguh Jogja

 

Pesona Budaya Jawa: Memahami Tata Krama Jogja

Nderek langkung/ Nyuwun sewu secara Bahasa Indonesia mempunyai arti Permisi numpang lewat. Tradisi ini begitu melekat di kalangan Masyarakat jogja sejak dulu jaman nenek moyang.

Yogyakarta, lebih dari sekadar destinasi wisata alam yang memesona. Di balik keindahan alamnya, terhampar kekayaan budaya Jawa yang begitu kental dan mempesona. Nderek langkung: Memahami Tata Krama dan unggah ungguh Jogja sebuah cerminan filosofi luhur Jawa, menjadi kunci untuk menyelami lebih dalam samudra budaya ini.

Baca juga: 5 Hal yang dilarang saat makan di jawa

Jauh dari sekadar aturan kaku, tata krama Jogja memancarkan nilai-nilai kesopanan, kesantunan, dan penghormatan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Dengan mempelajari dan menerapkan tata krama ini, wisatawan tidak hanya menunjukkan rasa hormat terhadap budaya lokal, tetapi juga membuka pintu menuju pengalaman wisata yang lebih autentik dan berkesan.

Mari kita selami lebih dalam filosofi dan praktik tata krama Nderek langkung di Masyarakat Jogja, Dan menjaga sebuah warisan budaya yang tak ternilai dan patut dilestarikan.

Nderek langkung: Memahami Tata Krama dan unggah ungguh Jogja

 

Baca juga : Menu raminten

Menjelajahi Keindahan Budaya: Mempelajari Tata Krama Jogja dalam Interaksi Sehari-hari

Salah satu aspek penting dalam tata krama Jogja adalah bagaimana seseorang berperilaku saat bertemu orang lain. Interaksi ini menjadi momen awal untuk membangun rasa hormat dan saling menghargai. Mari kita selami beberapa contoh praktis tata krama Jogja saat bertemu orang, yang mencerminkan kearifan lokal dan budaya Jawa yang dijunjung tinggi.

 

Nderek langkung: Memahami Tata Krama dan unggah ungguh Jogja

Berikut contoh tata krama dalam interaksi sehari-hari dengan orang yang lebih tua :

  • Lewat di hadapan rang yang lebih tua:

Menyapa dengan salam dan senyuman, menggunakan bahasa yang sopan, seperti Nderek langkung atau nuwun sewu dan Menundukan kepala atau badan sebagai symbol penghormatan kepada yang lebih tua.

  • Mendahului orang lain Ketika berjalan :

Di Yogyakarta, terdapat tata krama khusus yang mengatur perilaku saat berjalan, termasuk aturan tentang mendahului orang lain. Mendahului saat berjalan kaki pun Masyarakat jogja mempunyai tegur sapa yang menjadi tata krama seperti mengucapkan Mangga atau kula ngrumiyini nggih. Memahami tata krama ini tidak hanya membantu Anda menghindari kesalahpahaman, tetapi juga menunjukkan rasa hormat terhadap budaya dan tradisi setempat.

  • Mempersilahkan orang lain untuk duduk ( Mangga lenggah atau mangga pinarak )
  • Menyapa orang lain yang mau pergi ( badhe tindak pundi )
  • Menawarkan bantuan orang lain ( mangga kulo biantu )
  • Dan masih banyak lagi

 

Nderek langkung: Memahami Tata Krama dan unggah ungguh Jogja

Melestarikan budaya tata krama mulai dari diri sendiri

Marilah kita memulai hari ini dengan menyapa orang – orang di sekitar kita dengan salam dan sapaan berbahasa Jawa.

Menggunakan sapaan sehari-hari dilingkungan/sekitar kita seperti :

  • “Sugeng enjing, Pak” “Sugeng enjing, Bu”
  • “Sugeng siang, Pak” “Sugeng siang, Bu”
  • “Sugeng sonten, Pak” “Sugeng sonten, Bu”
  • “Sugeng ndalu, Pak” “Sugeng ndalu, Bu”

 

Baca juga : Mitos menyapu tidak bersih jodoh brewokan

 

Lebih dari sekadar kata-kata, salam dan sapaan ini merupakan cerminan dari karakter dan kepribadian kita. Dengan menunjukkan rasa hormat dan sopan santun, kita tidak hanya menyenangkan hati orang lain, tetapi juga melestarikan budaya dan tradisi Jawa yang kaya.

Marilah kita bersama-sama menjadi generasi penerus yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Jawa. Dimulai dari hal-hal kecil seperti menyapa dengan bahasa Jawa, kita dapat menanamkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap budaya leluhur.

Jangan ragu untuk menunjukkan jati diri kita sebagai orang Jawa.

” Wong jowo ojo ngangsi ilang jawane “

 

Nderek langkung: Memahami Tata Krama dan unggah ungguh Jogja Read More »

Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih?
artikel

Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih?

Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih?

 

Mitos Jawa: Cerminan Budaya dan Kearifan Lokal

Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih? Mitos masyarakat Jawa merupakan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun dan mengandung nilai-nilai budaya serta kearifan lokal. 

Mitos-mitos ini sering kali dikaitkan dengan kepercayaan, tradisi, dan norma sosial yang berlaku di masyarakat Jawa.

Fungsi Mitos Jawa:

  • Sebagai pedoman hidup: Mitos memberikan arahan dalam berperilaku dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Menjaga kelestarian budaya: Mitos melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi Jawa yang diwariskan dari leluhur.
  • Meningkatkan rasa cinta tanah air: Mitos menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya Jawa.
  • Sebagai media hiburan: Mitos menjadi cerita rakyat yang menghibur dan menarik untuk didengarkan.
 

Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih? Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih?[/caption]

Menyingkap Makna di Balik Tradisi Menyapu Bersih dalam Budaya Jawa

Di balik Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih? kesederhanaan aktivitas menyapu, tersimpan tradisi dan makna mendalam dalam budaya Jawa. 

Tradisi menyapu bersih bukan sekadar menjaga kebersihan, tetapi juga dipercaya membawa berbagai keberuntungan dan tolak bala.

Tradisi menyapu bersih dalam budaya Jawa merupakan contoh nyata bagaimana tradisi dan nilai-nilai luhur dapat terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. 

Tradisi ini bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang menjaga keharmonisan dan keseimbangan dalam hidup.

Lebih dari sekadar tradisi, menyapu bersih juga melambangkan sebuah refleksi diri dan kepedulian terhadap lingkungan. 

Saat menyapu, kita diajak untuk merenungkan dan membersihkan diri dari hal-hal negatif, sekaligus menjaga kebersihan dan keharmonisan dengan alam sekitar.

 

 

 

Menelusuri Tradisi Gugon Tuhon: Mitos dan Larangan bagi Masyarakat Jawa

Di tanah Jawa, tradisi turun-temurun yang dikenal sebagai “Gugon tuhon” atau mitos, masih mewarnai kehidupan masyarakat, khususnya bagi para perempuan. 

Mitos-mitos ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, membawa pesan dan nilai-nilai luhur, serta larangan yang diyakini membawa konsekuensi tertentu.

Gugon tuhon, secara harfiah berarti “bisikan leluhur“, merupakan tradisi lisan yang berisi nasihat, larangan, dan panduan hidup dari orang tua kepada anak cucunya. 

Tradisi ini mencerminkan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya Jawa yang dijaga dan dilestarikan.

Meskipun beberapa mitos mungkin sulit dinalar secara logis, namun di baliknya terkandung makna dan pelajaran berharga. 

Dalam hal ini Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih? menjadi pedoman hidup yang membantu mereka dalam menjalani peran dan tanggung jawabnya.

 

Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih? Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih?[/caption]

Mitos menyapu harus bersih di Masyarakat jawa

” Yen nyapu sing resik mengko ndak bojone brewoken “

( kalau menyapu yang bersih biar tidak mendapat jodoh brewokan)

Di balik mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih? atau gugon tuhon yang konon membawa kemudahan mendapatkan jodoh tampan / cantik, terselip makna tersirat tentang pentingnya menjaga kebersihan bagi perempuan. 

Mitos ini, meskipun tidak dapat dibuktikan secara logis, dapat diinterpretasikan sebagai sebuah ajakan bagi perempuan untuk selalu tampil rapi dan terawat. 

Yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya tarik dan peluang mereka untuk mendapatkan pasangan yang sesuai. 

Dan contoh mitos yang lain sebagai berikut :

 

 

Mitos – mitos yang berkembang di kalangan masyarakat jawa

  • Aja lungguh ning ngarep lawang, mundhak wong sing nglamar mbalik (Jangan duduk di depan pintu agar orang yang mau melamar tidak pergi lagi).
  • Bocah wadon aja lungguh jegang, ora ilok (Anak gadis tidak baik duduk dengan menekuk kaki ke atas, tidak elok).
  • Bocah wadon uwis prawan, yen surup aja dolan mengko diculik demit (Anak gadis tidak baik pergi ke luar rumah menjelang malam karena dipercaya akan diganggu oleh makhluk halus).
  • Siul dimalam hari. Mengko ndak ngundang demit ( larangan bersiul di malam hari karena bisa mengundang mahluk halus )
  • DAN MASIH BANYAK LAGI…
 
 

Simak video mitos menyapu di jawa

Mitos Orang Jawa. Kenapa Menyapu Harus Bersih? Read More »

Sejarah dan Makna di Balik Nasi Tumpeng
artikel

Sejarah dan Makna di Balik Menu Nasi Tumpeng

Sejarah dan Makna di Balik Nasi Tumpeng

Sejarah dan Makna di Balik Nasi Tumpeng

Mari kita telusuri lebih dalam jejak sejarah nasi tumpeng, menguak makna simbolik di balik setiap elemennya, dan menyelami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Menelusuri Jejak Sejarah dan Makna Mendalam Nasi Tumpeng: Simbol Kemakmuran dan Rasa Syukur

Nasi tumpeng bukan sekadar hidangan biasa, tetapi memiliki makna sakral dan filosofis yang mendalam dalam budaya Indonesia.

Bentuk kerucut nasi tumpeng melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan puncaknya yang menjulang tinggi menjadi simbol harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Tradisi memotong nasi tumpeng dimulai dari puncaknya, melambangkan doa dan harapan agar acara yang sedang berlangsung dapat mencapai hasil terbaik.

Lauk pauk yang disajikan bersama nasi tumpeng pun tak sembarangan. Jumlahnya yang tujuh melambangkan “pitu” dalam bahasa Jawa, yang berarti “pitulungan” atau pertolongan.

Secara keseluruhan, nasi tumpeng bukan hanya hidangan lezat, tetapi juga simbol budaya yang sarat makna dan nilai-nilai luhur.

Sejarah dan Makna di Balik Nasi Tumpeng

Filosofi di balik Lezatnya Nasi Tumpeng

Di balik hidangan nasi tumpeng yang menjadi salah satu menu ikonik di The house of raminten ini terdapat makna filosofis yang sarat nilai budaya Jawa. Kata “tumpeng” ternyata merupakan singkatan dari “yen metu kudu mempeng”.

Yang berarti “ketika keluar harus sungguh-sungguh dan bersemangat”. Makna ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu mengerjakan setiap pekerjaan dengan penuh dedikasi dan pantang menyerah, seperti semangat yang terkandung dalam tradisi nasi tumpeng.

Ada juga yang mengartikan Tumpeng merupakan singkatan dari “tumapaking penguripan, tumindak lempeng tumuju Pangeran.” Artinya, berkiblatlah kepada pemikiran bahwa manusia itu harus hidup menuju jalan Tuhan.

Makna Simbolis Nasi Tumpeng:

  • Bentuk Kerucut: Melambangkan gunung suci, tempat bersemayamnya para dewa dan roh leluhur, serta melambangkan hubungan manusia dengan alam semesta. Bentuk kerucut yang menjulang tinggi juga diartikan sebagai doa dan harapan untuk mencapai cita-cita.
  • Nasi Kuning: Warna kuning melambangkan kemakmuran, kekayaan, dan kesucian. Penggunaan nasi kuning dalam tumpeng melambangkan rasa syukur atas karunia yang diterima dan doa untuk mencapai kemakmuran.
  • Lauk Pauk: Setiap lauk pauk yang disajikan bersama nasi tumpeng memiliki makna simbolisnya sendiri. Contohnya, ayam melambangkan keberanian, telur melambangkan kesuburan, dan urap melambangkan kesederhanaan.
  • Memotong dan Membagikan: Tradisi memotong nasi tumpeng dan membagikannya kepada orang lain melambangkan kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur atas karunia yang diterima. Orang yang memotong tumpeng biasanya adalah orang yang dihormati atau yang memiliki kedudukan tinggi.

Nilai Budaya Nasi Tumpeng:

  • Penghormatan kepada Leluhur: Tradisi nasi tumpeng terdahulu erat kaitannya dengan ritual penghormatan kepada leluhur. Bentuk kerucut nasi tumpeng melambangkan gunung suci, tempat bersemayamnya para roh leluhur.
  • Rasa Syukur: Nasi tumpeng kini menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang diterima. Tradisi memotong dan membagikan nasi tumpeng melambangkan rasa syukur yang dibagikan kepada sesama.

Dalam perkembangan jaman menu Nasi tumpeng tidak lagi hanya ada dalam acara-acara ritual saja. Salah satu menu favorit di The house of Raminten ini sudah mengalami perubahan dari segi Nasi, lauk, dan menu – menu yang didalamnya untuk mengikuti selera lidah para pelanggan.

 

Sejarah dan Makna di Balik Nasi Tumpeng

Menu Ikonik Nasi tumpeng di The house of Raminten

Rumah makan dengan konsep yang menawarkan suasana Jogja ini. Bukan hanya menawarkan suasana yang kental akan budaya Jogja. Raminten juga menawarkan banyak menu yang memanjakan lidah para pecinta kuliner Ketika berlibur di kota Yogyakata.

Restoran ini Terletak di Tengah pusat kota Jogja lebih tepatnya di timur tugu Jogja. Kamu bisa menemukannya di Alamat berikut :

The house of raminten

Jl.FM.Noto No.7, Kotabaru, Yogyakarta

Instagram : House Raminten

 

Berikut daftar menu nasi tumpeng ala The house of raminten :

 

Sejarah dan Makna di Balik Nasi Tumpeng

  1. Sekul pangkon

Menu tumpeng yang bisa di nikmati oleh 4 orang yang terdiri dari 4 potong ayam geprek
kremes, tahu, tempe, sambel, pecel, dan nasi putih

 

Sejarah dan Makna di Balik Nasi Tumpeng

  1. Sekul songgo langit

Menu ini bisa dinikmati 4 orang, yang terdiri dari 4 potong ayam areh, sate satean, gudangan, tempe, tahu

 

Sejarah dan Makna di Balik Nasi Tumpeng

  1. Tumpeng ijen

Menu tumpeng ijen ini cocok dinikmati untuk porsi 1 orang. Menu masakan ini terdiri dari berbagai bahan antara lain :
Disajikan dengan Nasi putih,sate ati ampela,tahu,
tempe,dan sayuran

 

Sejarah dan Makna di Balik Nasi Tumpeng

  1. Pasugatan

Menu pasugatan ini cocok dinikmati untuk porsi 1 orang. Menu masakan ini terdiri dari berbagai bahan antara lain :
Disajikan dengan Nasi,ayam bumbu santan,
sambel,dan sayuran

 

 

 

Sejarah dan Makna di Balik Menu Nasi Tumpeng Read More »

larangan ketika makan di masyarakat jawa
artikel

5 Hal yang dilarang Ketika Makan di Jawa yang perlu kamu ketahui

Hal yang dilarang Ketika Makan di Jawa yang perlu kamu ketahui

5 Hal yang dilarang Ketika Makan di Jawa yang perlu kamu ketahui

Yogyakarta sebagai kota kaya budaya dan tradisi. kota yang terhampar di kaki Gunung Merapi, menyimpan pesona budaya dan tradisi yang tak lekang oleh waktu.

Dijuluki sebagai “Kota Pelajar” dan “Kota Budaya”, Yogyakarta menawarkan pengalaman wisata yang tak terlupakan bagi para pecinta budaya dan sejarah.

Bagi masyarakat Jogja terdapat norma atau larangan ketika makan di masyarakat jawa yang tidak tertulis namun sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat

Menelusuri Jejak Sejarah di Keraton Yogyakarta

Memasuki gerbang Keraton Yogyakarta, seolah-olah kita melangkah kembali ke masa kejayaan Kesultanan Yogyakarta.

Arsitektur keraton yang megah, taman-taman yang asri, dan koleksi benda-benda pusaka menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Yogyakarta.

Di sini, Anda dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional Jawa yang memukau, seperti tari Bedhaya dan tari Serimpi.

Mencicipi Kuliner Khas Yogyakarta yang Lezat

Yogyakarta terkenal dengan kulinernya yang lezat dan kaya rasa.

Gudeg, nangka muda yang dimasak dengan santan dan gula merah, adalah makanan khas Yogyakarta yang wajib dicoba.

Anda wajib mencoba datang ke Restoran dengan konsep suasana yang kental dengan budaya jogja salah satu yang terkenal adalah

Raminten.com

The house of raminten Kota baru.

Alamat : Jl.FM.Noto No.7, Kotabaru, Yogyakarta

Instagram : House Raminten

Menjaga Tradisi Jogja: Larangan ketika makan di masyarakat jawa

Yogyakarta, kota yang kaya akan budaya dan tradisi, menyimpan pesona yang tak lekang oleh waktu.

Salah satu kekayaan budaya yang wajib dilestarikan adalah tata krama dalam menyantap hidangan.

Bagi masyarakat Jawa, terdapat beberapa larangan ketika makan di masyarakat jawa yang mencerminkan nilai-nilai luhur dan penghormatan terhadap leluhur.

Lebih dari Sekedar Aturan

Larangan ketika makan di masyarakat jawa bukan hanya tentang aturan, tetapi juga tentang penghargaan terhadap budaya dan tradisi.

Mempelajari dan menerapkan tata krama makan di Jawa adalah salah satu cara untuk melestarikan budaya yang kaya ini.

Memperkaya Tradisi

Menjaga tata krama makan di Jawa bukan hanya tentang menghormati tradisi, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai luhur seperti kesopanan, rasa hormat, dan penghargaan terhadap leluhur.

Menerapkan tata krama ini dalam kehidupan sehari-hari dapat memperkaya tradisi dan memperkuat rasa persatuan di masyarakat.

Warisan Budaya yang Berharga

Tata krama makan di Jawa adalah bagian dari warisan budaya yang berharga dan harus dilestarikan.

Dengan menjaga dan menerapkan tata krama ini, kita dapat memastikan bahwa tradisi dan nilai-nilai luhur budaya Jogja tetap hidup dan berkembang di masa depan.

Bersama Melestarikan Budaya Jogja

Menjaga budaya Jogja adalah tanggung jawab kita bersama.

Dengan mempelajari, menerapkan, dan melestarikan budaya ini, kita dapat menjaga warisan leluhur dan memperkaya khazanah budaya Indonesia.

Mari lestarikan budaya Jogja!

Berikut aturan ketika makan di masyarakat jawa yang masih di pegang teguh hingga saat ini :

5 Hal Larangan ketika makan di masyarakat jawa yang perlu kamu ketahui:

1. Dilarang makan depan pintu

 
larangan ketika makan di masyarakat jawa
 
Alasan Praktis:
  • Menghalangi lalu lintas: Makan di depan pintu dapat menghalangi orang lain yang ingin masuk atau keluar rumah.
  • Keamanan: Duduk di depan pintu dapat menghalangi pandangan dan membuat orang mudah tersandung. Hal ini berbahaya, terutama bagi anak-anak dan lansia.
  • Kebersihan: Remah-remah makanan dan kotoran lainnya yang jatuh di depan pintu dapat mengotori area tersebut dan menarik hewan pengerat.
Alasan Budaya dan Tradisi:
  • Menghormati leluhur: Menurut kepercayaan Jawa, leluhur sering melewati pintu rumah. Makan di depan pintu dianggap tidak sopan dan tidak menghormati mereka.
  • Membawa sial: Ada mitos yang mengatakan bahwa makan di depan pintu dapat membawa sial, seperti kesulitan mendapatkan jodoh atau rezeki yang seret.
  • Menjaga sopan santun: Makan di depan pintu dianggap tidak sopan dan menunjukkan sikap tidak menghargai orang lain.

2. Dilarang makan sambil berdiri

larangan ketika makan di masyarakat jawa
 
Alasan Budaya:
  • Menghormati Leluhur: Tradisi makan sambil duduk di Jawa telah diwariskan turun-temurun dan dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Makan dengan posisi duduk yang sopan menunjukkan rasa terima kasih atas rezeki yang diberikan.
  • Menjaga Kesopanan: Makan sambil berdiri dianggap tidak sopan dan kurang estetis. Posisi duduk dianggap lebih rapi dan menunjukkan sikap yang lebih terhormat saat menyantap hidangan.
  • Menghargai Makanan: Duduk dengan tenang saat makan memungkinkan untuk fokus pada rasa dan menikmati hidangan dengan lebih baik. Makan sambil berdiri berisiko terburu-buru dan tidak menghargai makanan.
  • Mempermudah Pencernaan: Posisi duduk yang tegak saat makan membantu proses pencernaan makanan. Duduk tegak membantu lambung bekerja dengan optimal dan mencegah asam lambung naik.
  • Menjaga Kesehatan: Makan sambil berdiri dapat menyebabkan tersedak dan terburu-buru menelan makanan, hal tersebut menjadi salah satu Larangan ketika makan di masyarakat jawa.
Alasan Praktis:
  • Mencegah Tumpahan: Duduk saat makan membantu menjaga makanan tetap di piring dan mencegah tumpah. Hal ini penting untuk menjaga kebersihan dan menghindari pemborosan makanan.
  • Memudahkan Berbagi: Makan sambil duduk memungkinkan untuk berbagi makanan dengan lebih mudah dan sopan. Posisi duduk yang berdekatan memudahkan untuk menyajikan dan menerima makanan dari orang lain.
  • Menjaga Kebersihan: Duduk saat makan membantu menjaga kebersihan tangan dan pakaian dari cipratan makanan. Hal ini penting untuk menjaga kesehatan dan estetika.

3. Dilarang makan sambil tidur

larangan ketika makan di masyarakat jawa

 
Alasan Kesehatan:
  • Gangguan Pencernaan: Makan sambil tidur dapat mengganggu proses pencernaan karena posisi tubuh yang tidak ideal dan fokus yang terpecah. Hal ini dapat menyebabkan asam lambung naik, sakit perut, kembung, dan mual.
  • Tersedak: Saat makan sambil tidur, risiko tersedak lebih tinggi karena kurangnya fokus dan koordinasi. Tersedak dapat menyebabkan gangguan pernapasan, bahkan kematian dalam kasus yang parah.
  • Kebersihan: Makan sambil tidur dapat mengotorkan tempat tidur dengan remah-remah makanan dan tumpahan minuman. Hal ini dapat menjadi sumber penyakit dan kuman.
Alasan Budaya:
  • Sikap Tidak Sopan: Makan sambil tidur dianggap tidak sopan dalam budaya Jawa. Hal ini menunjukkan ketidakpedulian terhadap kebersihan dan kurangnya penghargaan terhadap makanan.
  • Ketidakberuntungan: Mitos Jawa kuno percaya bahwa makan sambil tidur dapat membawa sial dan ketidakberuntungan.
  • Menghormati Leluhur: Tradisi makan bersama di meja makan dengan posisi duduk yang tepat merupakan cara untuk menghormati leluhur dan menjaga nilai-nilai budaya.

4. Dilarang nyisahin makanan

larangan ketika makan di masyarakat jawa
 
beberapa alasan mengapa orang Jawa dilarang menyisakan makanan:
  1. Sikap Bersyukur: Menyiakan makanan dianggap sebagai ketidak bersyukuran atas rezeki yang diberikan. Masyarakat Jawa percaya bahwa makanan adalah berkah dari Tuhan dan harus disyukuri dengan cara menghabiskannya.
  1. Menghormati Leluhur: Menurut tradisi Jawa, sisa makanan melambangkan ketidakhormatan kepada leluhur yang telah menyediakan makanan. Leluhur dipercaya selalu hadir saat makan dan harus dihormati dengan menghabiskan makanan yang telah disajikan.
  1. Peduli Terhadap Sesama:Menyiakan makanan berarti membuang sumber daya yang berharga. Di Jawa, masih banyak orang yang kekurangan pangan. Menyiakan makanan berarti mengabaikan kebutuhan mereka dan dianggap tidak peduli terhadap sesama.
  1. Menjaga Keseimbangan Alam:Memproduksi makanan membutuhkan banyak sumber daya alam, seperti air, tanah, dan energi. Menyiakan makanan berarti membuang sumber daya alam secara sia-sia dan mengganggu keseimbangan alam.
  1. Mengajarkan Kedisiplinan:Larangan menyisakan makanan juga bertujuan untuk mengajarkan kedisiplinan kepada anak-anak. Dengan menghabiskan makanan, mereka belajar untuk menghargai makanan dan tidak membuang-buang barang.
Lebih dari Sekedar Larangan:

Larangan ketika makan di masyarakat jawa bukan hanya tentang aturan, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai luhur seperti rasa syukur, penghormatan, kepedulian, dan disiplin. Menerapkan larangan ini dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab.

5. Dilarang makan sambil ngecap

larangan ketika makan di masyarakat jawa
 
Alasan Budaya:
  • Menjaga Kesopanan: Makan sambil ngecap dianggap tidak sopan dan kurang estetis dalam budaya Jawa. Hal ini menunjukkan sikap terburu-buru dan tidak menghargai makanan.
  • Menghormati Leluhur: Tradisi makan di Jawa diwariskan turun-temurun dari leluhur. Menjaga tata krama makan, termasuk menghindari ngecap, merupakan bentuk penghormatan terhadap mereka.
  • Menjaga Kebersihan: Ngecap dapat menyebabkan sisa makanan menempel di tangan dan mencemari makanan yang lain. Hal ini dianggap tidak higienis dan dapat menimbulkan penyakit.
Alasan Kesehatan:
  • Mengganggu Pencernaan: Ngecap dapat menyebabkan udara masuk ke dalam pencernaan, yang dapat menyebabkan perut kembung dan begah.
  • Tersedak: Ngecap dapat membuat seseorang tersedak, terutama saat makan makanan yang keras atau cair.
  • Menyebarkan Kuman: Ngecap dapat menyebarkan kuman dan bakteri dari tangan ke makanan, terutama jika tangan tidak dicuci dengan bersih.

Baca juga : Destinasi wisata kuliner Jogja

Raminten jogja

Melestarikan Budaya Jogja:

Yogyakarta, kota yang terkenal dengan budaya dan tradisinya yang kaya, menyimpan warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

Salah satu Melestarikan Larangan ketika makan di masyarakat jawa adalah budaya yang harus kita lestarikanhal ini bukan hanya tanggung jawab masyarakat Yogyakarta, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia.

Upaya Melestarikan Budaya Jogja:

  • Mempelajari dan memahami budaya Jogja: Kita dapat mempelajari budaya Jogja melalui berbagai sumber, seperti buku, artikel, dan pertunjukan seni.
  • Menjaga tradisi dan adat istiadat: Kita dapat menjaga tradisi dan adat istiadat Jogja dengan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Mencintai dan menggunakan produk budaya Jogja: Kita dapat membeli dan menggunakan produk budaya Jogja, seperti batik, kerajinan tangan, dan kuliner khas Jogja.
  • Mempromosikan budaya Jogja: The house of raminten ikut peran serta dalam mempromosikan budaya Jogja kepada orang lain melalui media sosial, website, dan forum online.
  • Menjaga situs-situs budaya: Kita dapat menjaga situs-situs budaya Jogja dengan tidak merusak atau mengotori situs tersebut.

” Wong jowo ijo ngansi ilang jowone “

5 Hal yang dilarang Ketika Makan di Jawa yang perlu kamu ketahui Read More »

falsafah raminten
artikel

Falsafah Raminten

Falsafah Raminten

raminten
falsafah raminten

The house of Raminten merupakan suatu keluarga besar yang berusaha meningkatkan taraf hidup melalui cara kerja yang Professional ( Terampil ) dan Berdedikasi tinggi sehingga para pembeli /pelanggan memiliki gambaran positif, menghargai, dan tertarik dengan kepribadian Masyarakat Yogyakarta sebagai Kota tujuan wisata.
Sehingga demikian, pengembangan pariwisata di Yogyakarta terus tumbuh dan berkembang

The house of Raminten Bagai membangun keluarga dengan penuh cinta kasih. Seperti menyebar benih pelayanan dengan kemesraan, dan memungut panen hasil penjualan dengan kegirangan. Dan hanya kerja dengan rasa cinta, dapat mengubah suara angin menjadi alunan gending yang semakin agung.

Yogyakarta, 1 maret 2009

Follow Me

Baca Artikel

Falsafah Raminten Read More »

raminten jogja
artikel, , , ,

Fakta menarik tentang raminten

Fakta menarik tentang Raminten

raminten jogja

Berikut fakta menarik tentang raminten. banyak yang bertanya-tanya siapa Raminten.? Simak artikel di bawah agar tidak penasaran lagi.

Busana Yang dikenakan waiter dan waitreesnya pun tidak kalah uniknya. Waiter mengenakan kain jarik yang dimodifikasi dengan atasan dan rompi. Sedangkan waitreesnya mengenakan kain jarik dan kemben seperti halnya abdi dalem kraton.

Baca juga : ” Sejarah Raminten “

Senyum dan sapaan yang ramah kepada pengunjung menjadi sebuah keharusan seperti halnya adat istiadat Jawa terutama Jogjakarta.

Siapa sih Raminten..?

sejarah raminten

Asal nama Raminten berawal dari beliau Kanjeng Mas Tumenggung Tanoyo Hamijinindyo adalah nama abdi dalem kraton dari pemilik The House of Raminten adalah bapak Hamzah sulaiman. 

Beliau owner Toko batik terkemuka di Yogyakarta, Hamzah Batik yang dulunya bernama Mirota Batik Malioboro. Sejarah nama Raminten di ambil dari sebuah nama peran dari Bapak Hamzah Sulaiman dalam acara komedi situasi di sebuah stasiun televisi local (Jogja TV).

Beliau memerankan sosok perempuan Jawa yg lengkap dengan busana Jawa; berkebaya, memakai jarik dan berkonde yang bernama Raminten

Alasan Raminten menjadi tujuan kuliner di Jogja

Seiring dengan perkembangannya sampai saat ini The house of Raminten telah menjadi salah satu tujuan wisata kuliner jogja. Hal ini tidak terlepas dari peran serta Raminten dalam mempertahankan apa yang menjadi ke unikan ataupun kekhasan The house of Raminten itu sendiri. Justru dengan keunikan dan ke khasannya Raminten mampu bertahan meskipun banyak competitor-competitor lain.

Fakta menarik tentang kuliner Raminten Jogja

1. Patung Raminten

raminten jogja

Patung yang menggambarkan sosok perempuan Jawa setengah baya yang lengkap dengan identitas orang Jawa seperti berkonde, berkain jarik dan berkebaya. menjadi daya tarik tersendiri karena bentuknya yang iconic.

2. Suasana Aestetik

raminten

Busana Yang dikenakan waiter dan waitreesnya pun tidak kalah uniknya. Waiter mengenakan kain jarik yang dimodifikasi dengan atasan dan rompi. Sedangkan waitreesnya mengenakan kain jarik dan kemben seperti halnya abdi dalem Kraton.
Senyum dan sapaan yang ramah kepada pengunjung menjadi sebuah keharusan seperti halnya adat istiadat Jawa terutama Jogjakarta

Dengan suasana tradisional Jogja dengan di penuhi ornamen – ornamen khas jogja. ditambah alunan gending gending gamelan menambah daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke The house of Raminten.

3. Busana Waiter & Waiters

raminten jogja

Busana Yang dikenakan waiter dan waitreesnyapun tidak kalah uniknya. Waiter mengenakan kain jarik yang dimodifikasi dengan atasan dan rompi. Sedangkan waitreesnya mengenakan kain jarik dan kemben seperti halnya abdi dalem kraton.
Senyum dan sapaan yang ramah kepada pengunjung menjadi sebuah keharusan seperti halnya adat istiadat Jawa terutama Jogjakarta.

 

4. Menu dengan tampilan & nama yang unik

the house of raminten source by https://raminten.com

Menu makanan maupun minumannya menjadikan daya tarik kuliner jogja semuadisajikan dengan wadah dan gelas yang unik. Dengan penyajian yang ‘tidak biasa’ Raminten berharap pengunjung akan mendapat kesan karena ke unikannya. Selain itu nama-nama dari setiap menunya juga menggunakan sebutan yang unik pula. Misalnya minuman gajah ndekem, ayam koteka, bangjo pecinan dll.

Baca juga : Daftar Menu Raminten

5. Nuansa budaya Jawa

Itulah beberapa yang menjadi ke unikan The house of Raminten. Dengan harapan pengunjung tidak hanya akan mendapatkan kesan yang baik namun juga sebuah pengalaman baru dalam dunia wisata kuliner Jogja. Anda juga bisa mencari oleh-oleh aneka kerajinan di Hamzah batik Malioboro dan Hamzah Batik Kaliurang.

Follow Me

Baca Artikel

Fakta menarik tentang raminten Read More »

raminten jogja
artikel, , ,

Sejarah Raminten

Sejarah berdirinya Raminten

raminten jogja

Sejarah Raminten tak lepas dari beliau Kanjeng Mas Tumenggung Hamijinindyo adalah nama gelar pemberian dari Ngarso Dalem ( Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X ) Raja kraton Yogyakarta. Beliau adalah pemilik The House of Raminten yang bernama bapak Hamzah sulaiman.

Beliau juga pemilik Hamzah Batik yang dulunya bernama Mirota Batik Malioboro. Sejarah nama Raminten di ambil dari sebuah peran Hamzah Sulaiman dalam acara komedi situasi di sebuah stasiun televisi local (Jogja TV). Beliau memerankan sosok perempuan Jawa yg lengkap dengan busana Jawa; berkebaya, memakai jarik dan berkonde.

sejarah raminten

Dari peran itulah beliau memulai dengan nama Raminten dan sosok yang sudah di kenal masyarakat saat ini. Bahkan menjadi icon di Hamzah Batik & Raminten Group. Sejarah The House of Raminten Kotabaru berdiri pada tanggal 26 Desember 2008 dan beralamat di JL.FM Noto No.7 Kotabaru Yogyakarta. Anda juga bisa temukan di Google Maps. Di awal berdirinya The House of Raminten hanya berjualan aneka jamu.

Mulai dari jamu beras kencur, kunir asem, jamu kolesterol, asam urat, dan berbagai jamu lainnya. Dalam perkembangannya selain jamu juga menjual Sego Kucing dengan harga Rp.1000. Rupanya dengan menjual sego kucing dengan harga yang “spektakuler” inilah sejarah Raminten mulai di kenal orang. Dari sinilah awal mula pelanggan mulai berdatangan sampai rela mengantri untuk dapat tempat duduk. Dan SEGO KUCING seribu rupiah inilah yang sampai sekarang tetap menjadi icon di The  House of Raminten.

Visi dan Misi

raminten

Visinya adalah memberikan lapangan kerja, dalam hal ini bergerak di dunia kuliner yang diharapkan meningkatkan kesejahteraan keluarga besar The House of Raminten dalam semangat kekeluargaan. Misinya turut serta memajukan pariwisata terutama wisata kuliner di Yogyakarta. Dengan tetap berkonsisten mempertahankan budaya tradisional khususnya jawa.

Suasana tradisional Jawa

raminten

The House Of Raminten merupakan tempat makan yang sangat unik dan menonjolkan tema tradisional Jawa, yang berada dikawasan kota baru Yogyakarta. Bahkan penataan tempat beserta pakaian seragam waiternya pun sangatlah menarik. Pertama masuk pengunjung akan menjumpai bangunan yang semi permanen dengan menonjolkan unsur kayu sebagai bangunannya. Pengunjung juga akan menjumpai tatanan bunga setaman disudut-sudut ruangan, dan wewangian dupa yang akan menambah kentalnya suasana tradisional sebagaimana yang sering kita jumpai dirumah-rumah Jawa.

Tidak hanya itu, pengunjung akan disambut dengan ramah oleh waiter dan waitris yang lengkap berbusana tradisional jawa, busana kemben dan kain jarik yang dikenakan waitris (pegawai perempuan) Mengadopsi dari busana para abdi dalem Keraton Yogyakarta yang sudah dimodifikasi ala Raminten, sedangkan pakaian pegawai laki-laki atau waiternya mengenakan kain jarik dan modifikasi rompi dan kaos.

batik raminten

Di area reseptionis pada pintu masuk anda akan melihat 2 (dua) kereta kencana yang menambah kesan kentalnya kebudayaan Jawa khususnya Jogjakarta, Pada area dalam restoran anda bisa melihat proses pembuatan kain batik tulis, setiap hari jum’at pada jam makan siang ditempat kita menyuguhkan tari klasik jawa yang dimainkan oleh penari dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Hadir pula didalam ruangan aktifitas ibu-ibu yang membatik bahkan bisa dijadikan spot foto yang menarik. Selain itu, disetiap hari jumat siang juga menyuguhkan rangkkaian tari tradisional gaya Yogyakarta. Bangunan The House of Raminten terdiri dari 3 lantai yang rata-rata menggunakan tempat duduk lesehan yang nyaman.

Sajian kuliner Raminten

the house of raminten source by https://raminten.com

menyajikan berbagai macam pilihan menu makanan dan minuman dengan nama dan rasa yang unik dan rasa yang memanjakan lidah pengunjung. Silahkan tekan MENU disamping untuk melihat seluruh

Baca juga : MENU RAMINTEN

Keunggulan selain nama menu juga harganya yang sangat terjangkau juga penyajian menunya yang unik dan nama-nama yang unik pula. jadi jangan sampai terlewatkan ya jika sedang berlibur di kota Yogyakarta untuk berkunjung dan menikmati kuliner di The house of Raminten.

Matur nuwun

Follow Me

Baca Artikel

Sejarah Raminten Read More »

Chat Admin
1
Admin Raminten
Halloo..
Mau Hubungi Admin ( WA ONLY )
Silahkan klik Chat Admin di bawah :
 

Mau Reservasi Isi Form Dibawah :

Formulir Reservasi